Rabu, 22 April 2009

Tragedi di Puskom

Tiga hari yang lalu, aku ngenet di Puskom (kepanjangannya lupa. Pusat Komunikasi? Entah. Yang jelas, itu bagian dari kampus. Di situ ada warnetnya gitu…). Pertamanya, rame2 sama temen. Trus, satu per satu mereka pada pulang. Akhirnya, cuma aku yang tersisa di warnet Puskom.

Lagi asyik2nya ngenet+depresi nyari tugas yang gak ketemu2, mas2 penjaga warnetnya ngedeketin n ngajak ngobrol. Mulanya sih, asyik ditemenin. Tapi, lama2 aku ngerasa kok mas ini “aneh”? keanehan dalam dirinya mulai kurasakan ketika dia mulai ngasih pancingan (emang gw ikan???)

Mas: boleh kok, di sini gratis… (ngenet maksudnya)

Aku: hah? Emang bisa? (nanya rada cuek, masih depresi karena tiba2 facebooknya lambat, padahal lagi asyik maen)

Mas: bisa dong…

Aku: yang bener??

Mas: asal….

Aku: (noleh)???

Mas: (senyum najong) …. Ada asalnya, nih…

Aku: wah, yang kayak gini nih, gue kagak demen… (noleh ke kompi lagi, berusaha keliatan gak peduli)

Mas: asal kamu mau jadi pacar saya…

GUBRAK!!!!

Tuh, kan? Apa kubilang….

Setengah jam ke depan, omongan tuh mas2 gak laku teruuuus aja nyerempet ke masalah situ. Males banget deh.. gak tau ya, cewek yang dia ajak ngobrol ini masih frustasi abis setelah putus?

Sebel….sebel…. mana puskom sepi banget lagi… AC-nya dingin pula. Di tempat seperti ini, bahkan orang gemuk pun bisa tiba2 kedinginan dan butuh kehangatan. You know lah…antara sebel dan takut disosor sama tuh mas2 (GR bget), aku langsung offline, trus kaburrrrr….

Sempet sih disuruh nungguin dia n pulang bareng. Ih, ogah banget lah yaw!!!

Aku langsung kabur ke markas KSR, deket puskom. Di situ, beberapa anak KSR lagi pada ngumpul buat nyiapin HUT Palang Merah Sedunia. Aku langsung ngadu sama mereka. Eh, gak taunya setelah denger ceritaku, si Citra bilang gini: “Oh, dia emang suka gitu. Aku aja pernah digituin jg (dirayu gt)… tapi, sebenernya dia udah kawin kok…”

!%^$%$#$&^%^#%%$@

Dasar cowok ganjeeeeennnn…..!!!!!

Eh, tapi nyesel juga sih. Kenapa aku gak bilang “mau” aja yak? Kan lumayan internetan gratis. Tapi, kalo ke puskomnya rame2 sama temen biar dia gak bisa macem2…hihihi….

Jumat, 17 April 2009

renungan

Tadi malam aku dapat pencerahan. Dapat suatu pelajaran baru yang berharga banget tentang hidup. Berawal dari alunan musik keroncong dari kamarnya Mas Kansas, salah satu penghuni senior kos Abimanyu I No. 3

Ceritanya, Mas Kansas lagi ngamuk. Ngamuknya bukan sembarang ngamuk. Ya, itu tadi, nyetel musik keras-keras. Doski demen banget begituh. Paling gatel kupingnya kalo kos lagi sepi. Aku sih gak masalah. Tiba2 aja, di saat yang sama juga suka keroncong. Asyik dah. Pas banget aku baru lese makan, sambil menikmati minum dan merasakan semangkuk mie instan makan malamku tadi turun ke dasar lambung untuk diolah jadi feces, ‘palaku “mantuk2” seirama musik keroncong dari radio di kamar Mas Kansas yang ada di lantai 2.

Lalu, musik keroncong nan sayhdu itu tiba2 berhenti, berganti jadi lagu pop oldies taun ’70 ato 80-an. Jamannya papi sama mamiku lah pokoknya. Trus, dari bawah aku liat sekelebat tubuh Mas Kansas yang tinggi besar itu berjoget ria, tangan bertepuk riang sambil jalan mundur, ‘pala digeleng2. aku cuma ketawa sambil naroh gelas ke kamar. Ups, cucian 2 hari yang lalu belum di ambil. Naik ke loteng ambil cucian. Pas turun, ternyata kakakku ada di lantai 2, ngobrol sama Mas Kansas di balkon. Habis naroh cucian ikutan nimbrung di atas. Mas Anom yang di kamar sebelah kamarku juga ikutan.

Ngumpul2 gitu ternyata asyik banget. Tumben banget aku bisa ngobrol sama anak2 kost. Biasanya cuma basa-basi yang pastinya basi banget: “mau kuliah?”, “habis kuliah?”, “iya”, atau “enggak, habis bikin tugas.” Stok pembicaraan kami itu2 ajah. Basi banget, kan? Gak tau de, jamurnya sebanyak apa.

Pas lagi ngobrol gitu, sempat disuruh beli gorengan. Mas Kansas yang traktir. Berhubung aku yang paling kecil, akulah yang disuruh jalan… lagi2…. ~_~

Habis balik dari beli gorengan, nunggu Mas Kansas yang masih ke kantor naruh mobil karena gak muatdiparkir di depan kos. Begitu dia balik, ngobrol2 lagi, trus kakakku balik ke kamar karena mau bikin tugas. Jadilah ada aku, Mas Kansas, sama Mas Anom di balkon. Sebenarnya, ada Kak Ari, kamarnya di lantai 2 juga, di sebelah kamarnya Mas Kansas. Tapi, habis mandi, langsung pergi beli makan malam.

Pas bertiga itulah, tiba2 Mas Kansas membuka obrolan tentang kedamaian, ketenangan. Sesuatu yang sebenarnya dicari manusia selama ini, namun gak banyak yang menyadarinya.

Mulanya, dia cuma nanya pendapat kami, tentang betapa indahnya malam. Betapa indahnya taburan bintang. Betapa nyamannya kesunyian malam. Betapa dalam kesunyian kita dapat menemukan ketenangan. Hati yang tegang, sedih, marah, akan reda dan hilang ketika kita meresapi diri dalam hening malam. Sebenarnya, tak mesti malam. Tapi, Singaraja memang baru beristirahat ketika malam tiba. Aku dan Mas Anom cuma manggut2 mengiyakan.

Mas Kansas: pernah nggak kalian ngelihat langit dan merasakan keindahannya. Meresapi ketenangannya. Rasanya, damaaaaiiiii banget….sebenarnya, ini loh, yang dicari manusia selama ini…ketenangan…

Dari ketenangan, kereta pembicaraan melaju ke surga. Sesuatu yang dijanjikan Tuhan kepada manusia yang taat pada-Nya. Mas Kansas tiba2 bertanya, “Aku kok nggak pernah liat kamu shalat, Dek?” (Mas Kansas emang sering manggil anak2 kos dengan panggilan “Adek” karena emang kami lebih muda darinya, dan untuk menimbulkan perasaan dekat dengan kami). Mendapat pertanyaan itu, aku cuma bisa tersenyum pahit. “Aku ini Islam di KTP doang, Mas…”

Kenapa begitu? Ya, karena statusku sebagai Islam hanya ada di KTP. Aku nggak pernah shalat. Syukur2 kalau mau tidur inget baca doa, syukur2 pas makan baca bismillah, meski habis makan suka lupa hamdalah. Syukur2 bulan ramadhan tekad berpuasa tetap tinggi. Lalu, kenapa keinginan shalat gak setinggi keinginan puasa?

Aku cuma bisa diam merenungi kenyataan itu. Emang bener, pas ramadhan, aku gak sabar menanti sahur pertama. Gengsi berat kalau KO sebelum buka puasa pertama. Nelangsa ketika akhirnya menstruasi (sengaja kutulis sesuai istilah yang sesungguhnya: menstruasi, karena kalau aku ganti dengan “datang bulan”, mens, atau istilah lainnya, justru terasa aneh dan aku malu sendiri) dan gak bisa ikut puasa sementara waktu. Hepi berat karena berhasil melawan godaan seharian. Hepi melihat wajahku yang pucat dan bibirku yang kering di cermin karena kurang energi. Bersyukur sedalam2nya ketika tegukan pertama pas buka puasa mengalir dingin di tenggorokan. Lalu, kenapa aku gak merasa sejuk mendapat siraman air wudhu? Kenapa yang kurasakan justru gerah luar biasa ketika terbalut jubah shalat? Kenapa lantai itu begitu dingin ketika kusujudi? Kenapa suasana terasa tak bersahabat ketika aku ingin curhat dengan Allah? Mengadu pada-Nya seperti anak kecil mengadu pada ibunya karena habis dijahili teman2nya?

Aku akui, aku begitu rindu akan shalat. Begitu rindu ingin mengadu padanya, betapa setan dan iblis sering menjeratku ke dalam kenistaan. Ingin mengadu, betapa seringnya mereka menyakitiku dengan mengkafirkan diriku dari Islam….

Aku bilang pada Mas Kansas, aku ingin memperbaiki dulu bacaanku. Pelafalan qur’anku masih harus diperbaiki. Aku ingin sempurna membaca ayat2 yang Ia sucikan itu. Ayat2 yang juga disucikan umat Islam sedunia. Mas Kansas langsung menyadari, aku rindu akan shalat. Dan aku tak memungkirinya. Itu memang benar…

Mas Kansas bercerita tentang pengalamannya dengan teman2nya yang telah menemukan cara menenangkan diri dan mendekatkan diri dengan Tuhan. Ia bercerita tentang bagaimana temannya yang beragama Islam bangun pukul lima pagi, shalat dalam keremangan subuh yang damai. Sengaja lampu dimatikan. Mungkin agar shalatnya lebih khusuk, atau ingin hemat listrik? Entah… yang jelas, Mas Kansas memperhatikan, bagaimana damai wajah temannya ketika menghadap Allah. Bahkan, seusai shalat ia tak langsung beranjak, melainkan masih berkutat di atas sajadah. Mungkin berdzikir, mungkin membaca qur’an, ia tidak tahu.

Mas Kansas juga pernah ke Menjangan, sebuah pulau kecil di daerah timur Buleleng. Di sana ada sebuah pura, aku tidak tahu pura apa. Ia memperhatikan, bagaimana seorang temannya yang beragama Hindu khusuk dalam keheningan laut yang tentram, berdoa dalam kepulan wangi dupa, dalam lengkingan lonceng kecil yang dibunyikan pendeta, dengan siluet laut senja di belakangnya… irinya hatiku mendengarnya…

Lalu, temannya yang beragama Buddha. Sering ia menjumpai temannya ini duduk bersila di atas tempat tidur. Hanya duduk bersila. Mungkin sebenarnya ia bermeditasi. Teknisnya, ia duduk bersila, mengosongkan pikiran dari hal2 keduniawian. Pacarnya, tugas2 kuliah, uang kirimian yang seret, semua itu diusir dari pikirannya.

Sementara, Mas Kansas sendiri, ia penganut kristen katolik yang taat. Setiap minggu ke gereja, membuat tanda salib ketika masuk. Menghadap altar, menyalakan lilin di sana, berlutut dengan tangan saling memagut, lalu bercerita panjang lebar tentang apa saja yang ia pikirkan atau yang ia rasakan atau yang ia alami pada tuhannya, Yesus Kristus. Atau, katanya lagi, ada tempat lain, agak ke dalam. Di sana ada patung Bunda Maria memeluk Yesus yang baru habis disalib. Ia menyalakan lilin dan bercerita atau berdoa. Apa saja… di situ ia menemukan kedamaian. Semua itu, yang diceritakan Mas Kansas, penemu kedamaian yang sama meski beragama berbeda, akan beranjak dari pengaduannya dengan segar. Mereka bangkit dengan ringan. Segala beban terasa hilang dan tak membebani lagi. Baginya, pengaduan yang mereka lakukan sama dengan komputer yang habis di restart (ini aku bahasakan sendiri karena lupa kata2nya yang tepat seperti apa). Fresh kembali. Jalannya jadi lebih ringan. Enteng… sehingga, meski kemudian kembali bertemu masalah yang bertubi-tubi hingga nyaris membuat kita seakan ingin bunuh diri karena stress, mereka akan kuat menghadapinya. Bila tidak kuat, mereka bisa kembali pada Tuhan mereka masing2 untuk mengadu dan meminta dukungan.

Mas Kansas bilang, adalah bagus bila aku menyadari, aku kurang shalat. Nggak pernah malah. Bagus, kalau aku ternyata merindukan shalat. Kenapa? Aku lupa jawaban yang ia katakan. Yang jelas, kemudian ia bercerita tentang surga.

Baginya, surga yang dijanjikan Tuhan bukanlah tempat. Surga adalah suasana. Bila kita memandang surga sebagai sebuah tempat, indah, segala yang kita inginkan ada, tersedia untuk kita dan kita bahagia di sana, lama kelamaan kita akan bosan.

Sama halnya seperti kita yang biasa makan ikan asin karena harus irit biaya hidup. Makan ayam terasa sebagai sebuah kemewahan. Lalu, hidup kita meningkat. Kita mulai sukses dan kaya. Kita teringat nikmatnya makan ayam. Kita sering makan ayam karena rindu akan nikmatnya. Tapi, lama kelamaan ayam akan menjadi membosankan. Kita rindu akan makanan yang lain. Mungkin kita ingin burger, pizza, atau makanan mewah yang lain. Lalu, ketika kita sudah terlalu sering menikmatinya, kita akan bosan lagi dan mendambakan yang lain. Karena itu, akan sangat berbahaya apabila kita bosan pada surga jika ternyata surga adalah tempat.

Bagi Mas Kansas, surga adalah suasana yang kita rasakan di alam sana nanti. Suasana damai yang menenangkan, menentramkan dan membuat hati kita nyaman. Di mana pun kita berada, itu yang kita rasakan. Damai… tentram…

Nah, kalau neraka, lain lagi. Neraka sebenarnya juga suasana yang kita rasakan. Tapi, yang kita rasa itu adalah rasa sakit. Pernah sakit hati karena dikhianati pacar, temen, ato sahabat? Pernah ngerasa marah, geram, hingga benci? Sesek banget di dada kan? Dan kita tersiksa oleh perasaan itu. Makan gak enak, tidur gak nyaman, uring2an terus seharian, temen ngajak becanda berasa gak lucu, temen usil terasa ngejengkelin, bahkan kadang kita pengen banget rasanya “menyingkirkan” orang2 yang menjengkelkan itu. Pengen banget mengeliminasi mereka dari kehidupan kita, bahkan kalau perlu dari dunia ini. Biar dunia nggak mengenal orang yang menurut kita menjengkelkan…

Pemikiran seperti itu, adalah siasat setan, iblis, yah bangsa2 yang gak seneng manusia disayang Tuhan. Mereka sering menunjukkan sesuatu yang indah, yang akan membuat kita terlena, menikmati kenikmatan yang semu, padahal tanpa kita sadari, kita terluka. Semua kenikmatan yang kita rasakan itu hanyalah fatamorgana. Kita merasa nikmat, bahagia tak alang kepalang, tapi endingnya kita sengsara. Misalnya, selingkuh. Dengan selingkuh kita merasa senang. Merasa hebat telah menjadi pembohong. Senang karena mendapat kasih sayang dari banyak orang. Tapi, tanpa sadar kita tersiksa. Kita menjadi pembohong. Di sisi lain, selingkuh itu rugi banget. Kita perlu menganggarkan dana lebih buat SMS atau telpon, ngajak makan atau sekadar jalan2. Kalau pacar minta janjian di saat sama dengan selingkuhan, ribet kan urusannya? Putar otak lagi, bohong lagi, dosa lagi…

Mas Anom lalu bertanya, sebenarnya apa sih yang mesti kita cari di dunia ini? Mas Kansas menjawab dengan mantap, ketenangan. Sekali lagi, ketenangan. Karena kita sering mencari kelayakan hidup yang lebih tinggi dari yang kita miliki. Kita berpacu pada hal itu itu. Yang lagi sekolah, ngejar nilai tinggi. Yang kuliah juga begitu. IP seakan2 mantra paling ampuh untuk meningkatkan derajatnya di mata keluarga dan lingkungan pergaulannya. Yang kerja, peras-keringat-banting-tulang-jungkir-balik nyari duit. Setelah yang kita impikan kita dapatkan, kita ingin lebih. Terus begitu. Lalu, setelah itu apa? Kita bosan. Kita jenuh. Jemu dengan segala tetek bengek duniawi itu. Maka, kita butuh ketenangan. Kita ingin lari sejenak, menghindar dari rutinitas. Menghilang sejenak dari peradaban kehidupan kita sendiri…

Kembali ke surga sesuai definisi Mas Kansas: suasana yang menyenangkan dan realita selingkuh. Mas Anom bilang, selingkuh itu terasa bagaikan surganya dunia. Kita dapetin semua orang yang kita mau. Dalam hal Mas Anom, cewek. Dia suka cewek ini, dapet. Suka cewek itu, dapet. Tapi, buntut2nya pasti ribet. Belum lagi kalau ketahuan, males banget kan kalau kita harus ribut2 soal cowok atau cewek?

Membicarakan hal itu, aku teringat pengalamanku sendiri. Lalu, bagaimana dengan korban perselingkuhan? Aku tanya begitu. Bagi Mas Kansas, ya gak masalah. Karena aku hanya menjadi korban, bukan pelaku… sakit emang. Sedih banget rasanya… tapi, setelah itu, kita akan baik2 saja… lain halnya dengan pelaku perselingkuhan…

Pembicaraan tentang pelaku perselingkuhan menyerempet ke air. Mas Kansas sempat bertanya kenapa jadi membahas air? Kenapa orang Islam menggunakan air untuk berwudhu? Kenapa orang Hindu mencipratkan air (dalam Hindu istilahnya air Tirta) setiap usai sembahyang (Tri Sandya)? Tau gak, kalau tubuh kita itu sebagian besar terdiri dari air? Aku maupun Mas Anom gak bias menjawab karena terlalu sibuk nepokin nyamuk2 yang menggigiti hampir sekujur tubuh kami. Maklum, kami ngobrol dalam keremangan. Lampu balkon sampai wastafel deket kamar Mas Totok (penghuni kamar di yang lain) dimatikan untuk mendramatisir obrolan rohani malam itu.

Seorang peneliti dari Jepang meneliti air. Segelas air di tempatkan di sebuah ruangan, segelas lagi di ruangan yang lain. Air di ruangan pertama di beri kata2 yang baik2. di puji2, pokoknya diberi perlakuan positif. Sedangkan air di ruang yang satu lagi, diumpat2, diberi makian, pokoknya diberi perlakuan yang negatif. Ternyata, air yang diberi kata yang baik2, menunjukkan molekul yang indah luar biasa. Aku nggak tau istilahnya apa, yah aku bilang aja molekul…pokoknya, setelah diintip dengan mikroskop, air itu tampak indah banget..setelah aku coba cari di google, dapet gambarnya, seperti ini:






Sementara, yang diberi kata2 makian atau umpatan, jadi seperti ini:





Lalu, kembali ke fakta bahwa tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Bayangkan bila tubuh kita diberi umpatan. Misal, kita ketahuan selingkuh, pacar dan selingkuhan kita marah. Kita dimaki2, disumpah2in macem2. bisa gak ngebayangin bakal jadi seperti apa tubuh kita?

Jadi, selama kita hanya menjadi korban, gak masalah. Yang harus kita lakukan adalah bagaimana caranya agar kita bisa menerima kenyataan dengan ikhlas dan hati terbuka.

Kembali, aku teringat pada pengalamanku.

Aku: “aku marah, Mas, digituin (diselingkuhin). Kesel juga. Sedih, iya. Sakit hati, banget. Tapi, aku nggak pengen nyumpah2in dia (mantan). Gak pengen maki2, kasih umpatan di depannya…aku justru kasihan sama dia…

Mas Kansas: kenapa kasihan?

Aku: dari obrolanku selama ini dengan dia, dari cerita2nya, aku merasa dia sendiri bingung dengan jalan hidupnya. Dia belum tau, apa yang dia mau, apa yang dia butuhkan…aku rasa, dia belum siap dengan perubahan hidup yang harus dia jalani…

Mas Kansas: (manggut2) itu berarti, kamu sudah mencapai satu tahap kedewasaan. Normalnya, orang diselingkuhin itu marah banget. Ya, pengen maki2, pengen nonjok kalau perlu…tapi, kamu justru kasihan sama dia…

Giliran aku yang manggu2. GR jg dibilang “telah mencapai satu tahap kedewasaan”… ^_^

Yah, itu emang bener. Bukan ngada2… aku pernah diselingkuhin baru2 ini. Marah, iya. Kesel, juga. Sedih, banget. Sakit hati, apalagi… tapi, paling tidak, dia mau jujur sama aku sebelum aku terlanjur sayang sama dia, sesuai kata Mas Kansas kemudian. Daripada ntar telat, aku terlanjur di macem2in, akhirnya kenapa2 (bunting maksudnya), kan berabe tuh? Mending kalo dia mau tanggung jawab. Kalo nggak? Kan aku sendiri yang rugi. Kasihan ortuku juga. Pasti bakal kecewa banget…

Trus, Mas Kansas, Mas Anom dan Kak Ari (udah datang makan malam dan akhirnya ikut gabung sama kita2) nanya, tentang kisah cintaku itu. Gimana jadinya, kok bisa putus. Yang pasti, aku bilang aja alesannya karena emang udah nggak jodoh. Mau diapain lagi. Serunya waktu aku cerita, gimana aku bisa jatuh cinta sama nih anak cowok yang rada pecicilan (di mata mereka). Aku ceritain aja terus terang. Dalam waktu kurang dari 2 jam, mereka udah kayak kakak bagiku. Jadi, gak ada rasa canggung lagi untuk cerita. Hanya saja, aku tetep minta lampu balkon tetep dimatiin, karena aku tau, selama aku cerita tentang kisah cintaku yang satu ini, mukaku pasti merah banget… ~_~

Bener aja, mereka ketawa mendengar aku jatuh cinta hanya dari mendengar suara biola yang dimainkan cowok ini. Ketawa mendengar cinta ini semakin besar begitu aku melihat orangnya dan semakin besar lagi ketika dia ninggalin aku…

Dari dialog tengah malam itu, aku merenung. Terutama, nasihat terakhir: “Biarkan aja dia. Kalau kamu kasihan, itu tandanya kamu bener2 sayang sama dia dan gak mau kalau dia terperosok makin jauh. Kalau memang begitu, kamu harus ngingetin dia, nasehatin dia, supaya dia berubah. Tapi, kalau ternyata dia nggak mau berubah juga, ya udah… biarkan saja. Toh yang akan ngerasain dia sendiri. Kamu nggak akan kenapa2. hukum karma akan berjalan. Kalau bukan kamu yang membalas, Tuhan akan membalaskan untuk kamu…”

Aku rasa itu bener banget. Cuman, aku nggak pernah punya kesempatan untuk memperbaiki hubunganku dengan mantan. Sampai saat ini kami masih diem2an. Aku udah usaha untuk—paling tidak—temenan sama dia. Dia bilang oke. Tapi, ternyata tiap aku telepon, gak pernah ditanggapi dengan baik… sedih sendiri deh…tapi, sekarang aku rasa itu nggak perlu. Terserah dia mau ngapain lagi…yang aku utamakan sekarang, gimana caranya biar aku nggak musuhan sama dia…aku paling males kalau harus musuhan… gak masalah kalau ternyata dia nggak cinta beneran…

Kenapa aku berpikiran seperti itu? Kembali ke ketenangan... Aku butuh ketenangan. Gak dapet kabar darinya membuat aku nggak tenang. Dimusuhi olehnya membuatku gak tenang. Aku ingin mengikhlaskan, apapun yang ia lakukan padaku…

Ternyata emang bener… yang kita butuhkan sebenarnya adalah ketenangan. Aku nggak terlalu butuh cinta. Karena sesungguhnya cinta yang membahagiakan kita adalah cinta yang mampu memberikan ketenangan. Berarti, basic-nya adalah ketenangan kan?

Coba bayangkan suasanan desa. Yang kita bayangkan adalah tempat yang sejuk, hijau oleh dedaunan, udaranya basah oleh embun, seger banget. Orang2nya ramah. Kita duduk bersantai di pondokan sederhana yang terbuat dari kayu. Apa itu bukan berarti kita mendambakan ketenangan?

Rabu, 01 April 2009

kedodolanq dengan anak2 pemalu

Anak2 Pemalu? siape tuh? ayam dari mane??

mungkin kalian bertanya-tanya seperti itu. mungkin juga nggak...

anak-anak pemalu sebenernya cuma ada dua orang, aku sendiri sama temenku, Mami Fika. disebut begitu, ya karena kami memang pemalu. saking pemalunya, orang2 di sekitar kami bisa ikut2an malu, alias malu-maluin...!!! :p

dari mulanya cuma dua orang, salah satu temen sekelas, sebut saja Lumba-lumba, sering 'ngekorin' kami ke mana-mana. sepertinya sih dia ngefans abis sama kami. trus, teman sekelas yang lain, Dewi Laksmi, lebih beken dengan sebutan Bu Menwa (karena anggota Resimen Mahasiswa/Menwa) juga sering jalan bareng kami... jadi, anggaplah anak2 pemalu ada 4 orang...

ceritanya, kemaren tuh kumpul di markasnya anak2 KSR undiksha, di sekretariat UKM, di kampus tengah. trus, si dewi alias bu menwa dateng. terjadilah kuatrolog antara kami berempat:

bu menwa: hebat! wi tadi mandi lho, sebelum ke sini!!
aku: (sambil utak-atik hape dengan cuek) mandi aja bangga. aku nggak mandi... (nggak mandi aja bangga!!!)
bu menwa: iya, wi mandi lima menit...
aku: aku mandi anjing laut...
mami fika: hah? mandi apaan tuh?
aku:(masih sambil utak-atik hape)ituh, nyebur trus langsung naek lagi..
lumba2: aku mandi 3 K...
aku, bu menwa, mami fika: hah? mandi macam apa lagi tuh???
lumba2: ituh, basuh kuping, ketek, ke belakangan (menghaluskan daerah kewanitaan)...
mami fika: gak sikat gigi dong?!
aku: 4 K kali...
mami fika, lumba2 (dewi cuma bengong ajah): ????
aku: kumur2 lagi satu...
GUBRAK!!!!

habis dari UKM, kami ke perpus. di situ si lumba2 mo nyolokin laptop, tapi tempat nyolokinnya udah penuh. kebetulan di situ ada komputer khusus sebagai semacam katalog buku. berhubung kami perlu sama komputer itu, jadi gak mungkin dimatiin...tapi, lumba tetep maksa gitu nyari celah.trus, mami fika bilang: "kalo colokannya ramping, sih bisa di paksain masuk ke tengah di..."

eh, tau2 si lumba2 jejeritan:"udah deh, gak usah ngomong2in ramping!!!"
histeris gitu. aku jelas kaget lah. lha wong perpus lagi sepi2nya...

mami fika juga cuma bisa bengong aja liat reaksi si mpok lumba-lumba. aih...aih...

yah, antara kami berempat terjalin hubungan yang sangat aneh, namun kami cukup nyaman dengan hubungan kami itu..(alah, aneh apaan sih??)

yang jelas, kami selalu berusaha untuk terus saling menjaga, menghargai, menghormati, dan memanfaatkan...hehehe...kan dalam pertemanan itu berlaku asas manfaat di mana kita memanfaatkan teman, juga dimanfaatkan...filosofi itulah yang membuatku menghargai semua teman2ku (karena mereka bermanfaat buatku) dan membuatku selalu berusaha menjadi orang yang berguna buat mereka (sehingga aku bisa dimanfaatkan)...aneh, tapi cukup mujarab diterapkan dalam hidup ini...

missing someone

VARIETAS BAHASA MASYARAKAT CINA DI SURABAYA

Aku lagi kangen banget sama seseorang. Seseorang yang sampai bulan lalu, masih jadi milikku. Tapi, nasip apes emang gak bisa ditolak… ~_~


Well, temen-temenku bilang, patah hatiku gak akan lama. Toh pacarannya baru sepuluh hari… gak percaya? Itung, deh sendiri. Kenalnya 14 Februari, dikontak dua hari kemudian, tiga hari setelah itu, pas tanggal 19 sore kami jadian. Jadi pacar gitu…dan selama pacaran itu, kami gak pernah ketemuan. Habis, dia jauh sih. Selama di Bali (dia orang Jakarta), dia tinggal di Negara, Jembrana, sedangkan aku di Singaraja. Dari singaraja ke Negara butuh waktu dua setengah jam naik motor. Sekalinya ketemu, aku yang dateng nyari dia karena dia gak tau jalan ke singaraja dan gak punya kendaraan pula. Di sana, malah didiemin. Ngajak ngobrol dikit, basa-basi doang. Trus, tau gak ending-endingnya dia bilang apa?


“Udah, pulang sana. Ntar kesorean…”


A@&%$#!!!!!! Inikah pria 24 tahun yang sepuluh hari belakangan sering nelpon dan nyapa “halo, Sayang!”, manggil aku ‘Say’, ‘Cinta’, ‘Honey Bunny Lalalala’…? Ke mana semua nama-nama kiyut itu? Kenapa begitu aku muncul, aku gak dipanggil gitu lagi?


Hik… hik…. Sakit hati banget…. ~_~ kesel apalagi. Pengen kumaki tuh anak… pengen ngumpat. Ngomong kasar, ngatain yang jorok-jorok, nyebut isi kebun binatang (belajar di TK lagi… :p) macem kambing, semut, kecoa, sapi, kebo, kuda nil, baboon….


Begitu aku nyampe rumah dengan mata bengkak, sembab, karena di jalan mewek-mewek, buka hape, ternyata dia sempet berusaha nelpon. Karena gak kuangkat, dia sms. Berhubung aku gak denger ada telpon dan lagi nyetir motor, jadi gak bisa ngangkat telponnya. Eh, begitu baca smsnya, mewek lagi (karena isi sms itu intinya adalah PUTUS) dan…. tepar dengan sukses!!! Begitu bangun, udah ada selang oksigen di hidung… ~_~


Yah, aku emang sering sesak napas, terutama kalau dapet “kejut jantung” ampe shock… dulu juga pernah kayak gitu. Malemnya sesek karena habis berantem dengan kakak. Sampe besoknya gak sembuh-sembuh. Gak bilang ortu juga, takut mereka kepikiran. Takut diangkut ke rumah sakit juga. Pada akhirnya, nyerah juga. Kabur ke UKM KSR-PMI deh. Berhubung aku anggota KSR, langsung dapet servis terapi oksigen. Kebetulan, tabungnya habis dipake salah satu jurusan yang lagi ngadain ratam (ramah-tamah di jurusan, seperti OSPEK gitu). Nah, selama ratam itu oksigennya gak kepake karena gak ada yang sesak napas. Jadi, masih full. Aku habisin aja… hwekekekekek….


Nah, itu kejadian lagi setelah pulang dari Negara…. Huhuhu… ~_~


Sekali lagi, aku takut bilang sama ortu… jadi, begitu pulang dan teriak-teriak heboh yang dipaksakan (“Saya pulaaaaannnnggg!!!!”, biasanya disautin bapak atau kakak sepupu: “Wah, perusuhnya udah dateng, neh!! Gawat!!!” atau: “Ngapain pulang?” yang terakhir dengan ekspresi panik… :p) biar gak ketauan aku sesak napas, aku langsung masuk kamar, rebahan sambil punggung diganjel bantal (ceritanya airway control), ngatur napas…. Susah banget ngaturnya. Trus, terima sms dari orang yang dirahasiakan dulu untuk sementara waktu. Kalo udah siap mental, baru deh aku bisa cerita lengkap… hehehe…


Yah, pokoke sambil engeh-engeh ngatur napas, aku ngobrol dengan orang itu. Ngebahas hubunganku dengan orang yang sampai setengah jam sebelumnya masih jadi pacarku….


Setelah dipikir-pikir, aku capek…. Capek banget…. Capek harus memperhatikan orang yang ternyata gak mikirin perasaanku. Capek harus mencari perhatiannya dan memastikan matanya masih tertuju padaku. Capek membuka hati lagi, tapi ternyata yang datang bertamu membawa belati dan menusukku…. (tsaaaahhhh!!!!). capek mencari orang yang layak untuk jadi orang yang berdiri di sisiku dan kuperkenalkan dengan bangga pada dunia: “He’s mine!”

Selasa, 31 Maret 2009

dongeng anak-anak dodol

Sebelumnya aku pengen ngucapin turut berduka cita atas tragedi Situ Gintung yang menimpa sodara-sodaraku di Tangerang sono. Bagi yang kehilangan harta benda, semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Yang mengalami luka-luka, semoga cepet sembuh. Yang kehilangan keluarga, semoga yang dicari cepet ketemu dalam keadaan sehat walafiat. Yang keluarganya meninggal, semoga kalian semua diberi kekuatan dan ketabahan ‘tuk hadapi cobaan itu. Satu doa spesial, moga-moga si Chandra yang dodol ntu kagak ikut keseret banjir. Amin….

Jadi, post sekarang cerita pas aku lagi liburan di Jawa neh…selama libur Nyepi sama Kuningan, aku ngungsi ke Jawa. Aku berangkatnya hari rabu. Rencananya sih mau berangkat ke Jawa jam 6. Tapi, dasar kebo, aku baru bangun jam setengah delapan dengan mata masih sepet banget. Tadi malemnya baru tidur jam 1 pagi sih…

Begitu bangun, langsung mandi, trus siap-siap. Cuma ngerapihin barang ajah. Barang-barang yang mau dibawa sudah disiapin sejak semalem, jadi gampang n gak ribet.. dalam 45 menit langsung siap. Eh, ternyata Mami belom siap! Masih nyapu-nyapu gitu..padahal, aku bangunnya ya karena mami kirim sms (berhubung nebangunin aku dengan cara normal rada susah), nyuruh aku bangun..padahal, yang bilang mau berangkat jam 6 itu pan mami, eh kok malah mami yang belom siap-siap…payah… akhirnya kita berangkat sekitar jam 10 ato jam 11. nyampenya sore jam 3 ato 4. lupa..hehehe…

Ngomong-ngomong, waktu di kapal, ada kejadian menarik. Ceritanya ada bapak-bapak rambutnya gimbal. Bawa istri. Penampakan istrinya ga inget. Lupa. Trus, di sisi lain, ada bapak-bapak yang laen, palanya botak. Licin banget. Entah kenapa, selang-seling ngeliatin mereka, tiba-tiba aku jadi ketawa-ketawa sendiri. Bener-bener gak tau kenapa. Yang jelas, lucu aja rasanya. Pokoknya, seperti teringat sesuatu, tapi blur di kepala. Blur banget…trus, kakak sepupuku, Mas Indra, mbisiki aku: Lin, liat tuh bapak yang itu (nunjuk bapak-bapak gondrong gimbal). Mirip Bob Marley yah…

Aku cekikikan. Baru ngeh sendiri. Dari tadi mikir, mirip siapa yak? Gimbal-gimbal…trus, jadi inget sama Bob Marley…

Trus, Mas nyolek lagi. “trus, trus, yang ituh (nunjuk bapak pala botak licin) mirip Joe Satriani….

Aku semakin cekikikan. Itu dia! Joe!! Huekekekkekk….

Jadilah selama perjalanan di laut itu, kami ketawa-ketawa cekikikan berdua. Kadang, si bapak duplikatnya Om Bob itu lewat, kadang si Uwak Joe yang lewat beli makanan, pipis, ato jalan-jalan pindah tempat buat nyari angin ato buang angin (?). pas mereka lewat, aku pandangi lekat-lekat sambil nahan senyum. Sumpah, tersiksa banget. Tapi, kalo kelepasan ketawa, bisa nyinggung perasaan tuh Om sama Uwak. Rasanya, sama kayak pas perut lagi mules mau pup, gas beracun udah bergejolak mau keluar, tapi di depan ada pacar secakep Josh Groban. Huwaaaa…..!!!!

Begitu nyampe, langsung bergerilya di dapur, nyari-nyari makanan. Korban waktu itu: jagung rebus yang gak tau expired-nya kapan, kedondong dua biji, kue-kue kering maupun basah, nasi dengan lauk ikan laut faveku (2 porsi), bakso jumbo, kue-kue sisa perbekalan selama perjalanan tadi, bakso lagi, sama buah pir. Oh ya, tomat juga..gak tau kenapa, pas waktu itu kok bawaannya lapaaarrrr melulu (gaya, padahal biasanya juga selalu lapar).

Yah, jadi selama di Jawa (btw, aku tinggal di desa Sumberkolak, kota Situbondo, Jatim), kerjaanku makan, tidur, nganter kakak sepupuku, Mas Indra, beli baju sama kain untuk baju pengantin. Dia mo merit gitu. Jadi, sebelum ke jawa, masku yang memble ini dititipin tank-top sama baju berlengan panjang sama Mbak Risna, calon kakak iparku. Kita belinya di KDS (Kartini Department Store) Situbondo. Berhubung kakakku yang selera bajunya paling bagus (kalo aku beli baju lebih pewe beli T-shirt, gak pernah beli baju seperti yang biasa dipake cewek-cewek), kakakkulah yang milih-milih baju. Mas Indra ngekor terus dibelakangnya. Sambil nungguin mereka, aku liat-liat t-shirt di sekitar situ. T-shirtnya murah-murah!!! Bahkan, ada yang Cuma 17 ribu doank!! Pulang kampung yang lalu sempet beli sih. Belanjaa gila-gilaan tuh waktu itu. Dengan duit 200ribu, dapet 1 celana buat kuliah 1, 1 rok, 4 t-shirt, 1 tas, masih sisa pula duitnya…

Pas lagi milih-milih itu, gak taunya Mas Indra beralih jadi ngekorin aku. Lama-lama, aku juga ikut liat-liat koleksi baju-baju cewek gitu. Ceritanya mau bantuin dia nyari baju buat calon istrinya. Seperti biasa, akhirnya malah aku mencela baju-baju berdosa itu. Yang warnanya noraklah, yang harganya gak sesuai dengan modelnya yang gak ketulungan, modelnya yang anehlah, asesoris yang gak pas-lah, gambar di baju yang gak okelah. Pokoknya, kalo desainernya denger, bisa gantung diri…

Nah, di sela-sela pencarian kami itu, sempat terjadi obrolan gak pantes untuk muda-mudi seperti kami seperti berikut ini:
Aku: ih, ntar Mas kawin yah…
Mas: (mesem-mesem najong…gak jelas maksudnya apa, yang jelas pikirannya udah keruh, nyaris kotor)
Aku: berarti, ntar ‘gitu-gituan’ dong… (bila anda remaja di bawah 17 tahun, harap segera tutup blog ini dan jangan pernah buka lagi!)
Mas: hehehe….(ngangkat sebuah tank-top super seksi warna putih yang sudah pasti modelnya rada norak. Senyum makin mesum. Otak jelas makin kotor) iya nih, Mas udah mikir yang kotor-kotor…hehehe….(semakin mesum, semakin kotor, semakin dekat neraka…)
Aku: ih…(geli sendiri…gak sanggup ngebayangin adegannya). Ntar, Mbak Risna ngerayu-rayu Mas pake tank-top yah…hihihi…(ketawa setan ngeliat mas tersayangnya makin mesum mukanya). Gimana yak, kira-kira malam pertamanya…???
Mas: hehehe…kayaknya sih bakalan gitu. Mas udah mikirin gayanya, nih…
Aku: hah? Gaya apaan? (mulai merasa pembicaraan di muka umum ini semakin terlarang)
Mas: ya, gaya pas malam pertama nanti. Mas mau gaya 69… (semakin mesum, semakin kotor, semakin dekat neraka jahanam!!!)
Aku: (GUBRAK!!! Ketawa ngakak sampe ngesot-ngesot di lantai, gak bisa bangun. Baju di tangan udah ikutan ngesot di bawah. Maap yah, Mbak-mbak karyawan KDS, kalo bajunya kotor)
Mas: (nyengir-nyengir mesum sambil garuk-garuk kepala)
Aku: (bangun sambil berusaha meredakan tawa) eh, katanya doggy style juga oke loh. Katanya sih. Aku baca di internet (yah, apa pun bisa terjadi di dunia maya. Namanya juga maya, gak nyata).
Mas: (berenti ketawa, gak mudheng sama yang aku omongin)
Aku: itu gaya ‘begituan’ juga…cowoknya ada di belakang gitu…
Mas: (ngakak. Gak nyangka adek sepupunya yang bontot bin botol ini bisa tau yang begituan…) masa, sih? Wah, boleh tuh… (contoh konkrit kakak-adek sama dodolnya)
Aku: bahkan, aku baca di Yahoo answer, ada forum diskusi yang ngebahas gaya-gaya ‘gitu’…kalo gak salah katanya doggy style dihalalkan loh, sama Rasulullah…
Mas: apa?? (ekspresi lucu. Semakin gak nyangka, adek bontot bin botolnya ini sudah demikian sesat)
Dengan polosnya, aku pun menjawab: iya, beneran! Waktu itu, ada orang datang menghadap Rasul, trus bilang: Ya, Rasul. Semalam aku mendatangi istriku dan kami bersetubuh. Saat itu, aku lalu berbalik membelakangi istriku (maksudnya doggy style). Lalu, si fulan ini merasa telah melakukan dosa. Trus, sabda Rasul waktu itu: Allah memberimu kebebasan untuk menyetubuhi istrimu (lalu diselingi ayat Al-Qur’an entah ayat berapa, lupa. Yang jelas, bunyinya mirip begini: istrimu adalah ladang bagimu. Datangilah ia sesuka hatimu (maksudnye, ‘gaya’ bebas) dan sebarkan benihmu di sana (pada bagian ini, aku seolah-olah lagi nyebar benih di sawah)….kayaknya, sih bunyinya kayak gitu…(sumpah, lupa banget konkritnya gimana. Yah, kira-kira dialognya begitulah)
Mas: (bener-bener ngakak sengakak-ngakaknya. Bener-bener gak nyangka aku demikian sesat…)

Well, selain mengalami dialog dodol dengan masku itu, aku menjalani libur dengan abnormal. Makannya sih normal. Yang jelas, dapur cepet kehabisan makanan gara-gara aku. Tidurku abnormal. Di bawah jam sebelas malam, aku udah ‘tepar’ di tempat tidur, padahal, normalnya aku baru tidur di atas jam sebelas malam. Jadwal mandiku juga jadi abnormal. Biasanya cuma 1 kali sehari, pas pagi ajah. Kalo malem, gak mandi. Terutama kalo lagi males, seharian gak keringatan, keringatnya udah kering, ato baru habis hujan (kan udaranya dingin, bo!). Kalo libur, bisa tiga hari gak mandi-mandi. Tapi, selama libur di kampung, tiap sore aku mandi. Kalo pagi sih enggak. Aku merasa abnormal…sepertinya, aku kehilangan sebagian jati diriku…satu-satunya cara untuk membuatku merasa tetap ‘normal’ adalah….foto-foto…hehehe….

Berhubung adek sepupuku (adeknya Mas Indra), Raka, punya hape berkamera, kita rampas buat mengabadikan tampang-tampang binal kami berdua selama di kampung….huehehehe….doi sih, pasrah aja dirampok dua kakaknya yang cantik-cantik ini…berikut hasil kebiadaban kami berdua…


Korban pertama. Nama: Raka Madya Suparman. Nama baru (ngarep): Adi Rahmandia/Rahmandya(?). sebenernya, namanya udah diganti, tapi di keluarga tetep dipanggil Raka. Toh, orangnya juga tetep nyahut kalo dipanggil “Raka”. Orangnya tinggi besar, persis bokapnya. Punya masalah dengan berat badan dan jerawat. Punya cewek kecil printil, suka cemburuan, makanya tiap aku atau kakakku minta dianterin ke mana-mana (berhubung kami gak tau jalan di sini), selalu nolak, soalnya, kalo ketemu ceweknya, pasti dikira selingkuh, trus berantem deh…bodi boleh gede, Dek. Tapi, kamu masih takut sama cewekmu…
Perhatikan bagian tengahnya, alias perut…Dari depan, kamu masih “selamet”. Tapi dari samping, kamu nggak selamet, Ka….hueheheh….
















Korban kedua. Nama: Ika Irwandani. Pekerjaan: pemilik perusahaan tahu. Nama alias: Basten. Nama ini, gak tau sejarahnya kayak gimana. Yang jelas, di desaku, di Sulanyah, Bali, nama itu udah melekat banget sama orang yang kadang suka nolak sebagai bapakku ini. Yang jelas, bapakku beken banget dengan nama ini. Kalo aku bilang sama orang-orang: “saya anaknya Pak Irwan…” pasti gak ada yang kenal. Coba kalo bilang: “saya anaknya Pak Basten…” pasti jawabannya: “oh, anaknya Pak Basten, toh?!”. Ajaib, tapi itulah kenyataannya. Bapak sendiri lupa kenapa bisa dipanggil Basten. Dulu pernah inget, tapi sekarang lupa lagi. Ntar deh, kalo bapak inget lagi, aku kasih tau. Atau, mungkin ada yang tau artinya Basten? Tolong kasih tau, dong…

Sebelumnya, aku dan kakakku sempet motret bapak mendadak gitu. Setelah melihat hasil fotonya, ternyata bapak nggak puas karena hasilnya seperti di bawah ini… :p

Sebenernya aku sempet nengok juga dari belakang bapak, mo nimbrung. Tapi, gak keburu. Keburu kejepret… ~_~
Karena bapak gak suka hasilnya, kami foto ulang. Hasilnya seperti foto pertama di atas, di bawah ini:

Biasanya, bapak gak mau difoto…tapi, entah kenapa, waktu itu doski mau-maunya difoto..bahkan, kayaknya sama sekali gak kepikiran kalo fotonya bakal beredar di internet…huakakakakakakakkkk…..tabahkan hatimu, Papi…oh ya, gara-gara kakakku, kita jadi manggil Bapak dengan Papi. Dulu, kalo ada maunya kakakku manggil “Papi”, trus lama-lama jadi kebiasaan. Aku juga ikut-ikutan. Lama-lama, jadi kebiasaan. Bahkan, sekarang kalo manggil “Bapak” rasanya aneh…


Korban ketiga. Nama: Dewi Rejeki (foto kanan). Pekerjaan: Ibu rumah tangga, buruh dapur. Ibuku ini, wanita yang luar biasa. Sebenernya, ibuku gampang sakit. Tapi, selalu ngambil kerjaan melebihi kemampuan fisiknya. Buat nambah penghasilan untuk biayain kuliahku dan kakakku,Mami (sejarahku manggil Mami sama dengan manggil Papi) sering nerima jahitan orang-orang. Biasanya orderannya panen deket-deket hari raya. Entah hari raya orang Islam, hari raya orang Jawa, atau hari raya orang Hindu, kayak waktu Galungan-Kuningan sama Nyepi kemaren. Orderannya numpuk.

Sayangnya, Mami sering nunda pekerjaan. Siang-siang suka molor (tidur siang), ntar malemnya baru begadang. Mana suka lupa sarapan, kalo makan nasinya seiprit. Tiga kali suap, habis dah…makanya, ketika beranjak gede, tinggi badanku langsung nyalip Mami. Kalo aku berdiri berjejer sama Mami, kepala Mami paling cuma nyampe pundak ato leherku. Kalo sama kakakku, berhubung kakakku juga kecil (nurun nih…), jadi gak terlalu keliatan bedanya. Tapi, kakakku masih sedikit lebih tinggi dari Mami… :p

Mamiku itu rada narsis. Waktu remaja orangnya pe-de abis. Kepedeannya ini nurun sama kakakku. Kecil-kecil orangnya lincah. Itu juga nurun ke kakakku. Waktu masih sekolah, Mami aktif di organisasi sekolah, sering ikut lomba gerak jalan, sama lomba-lomba lain pas tujuh belasan. (yang ini nurun ke aku. Tapi, pe-denya gak nurun ~_~). Sampe sekarang, Mami masih lincah loh…sejak tahun lalu, mami jadi ketua pengajian ibu-ibu Al-Ikhlas yang anggotanya udah 200 orang lebih!!! Bahkan, gara-gara aktif di pengajian, kemaren sempet ditawarin jadi caleg buat pemilihan tahun ini…tapi, mami nolak. Papi juga pasti gak setuju. Aku juga gak setuju. Cuma kakakku yang setuju. Katanya sih, bisa dapet uang banyak kalo ikut jadi caleg, apalagi kalo sampe kepilih gitu. Tapi, aku tetep gak setuju. Habis, gara-gara jadi ketua pengajian, mami jarang ada di rumah. Sering keluar. Masalahnya mami itu kalo udah keluar rumah, bisa tiga jam lebih. Yah, mirip-mirip Misae, mamahnya Sinchan-lah…kasian Papi. Sekarang aja, sering ngomel karena ngerasa gak diperhatiin mami lagi…hihihi…kalo aku sih, pro Papi…kakakku pro Mami…



Korban keempat. Nama: Kamariyani. Usia: (dirahasiakan). Sampe usia menjelang 60 thn (yah, rahasianya kebongkar, deh!), mbahku ini tetep berjiwa muda, loh…dulu ajah, waktu aku masih SD, sering disuruh ngangkat lemari ato tempat tidur kalo lagi ganti tata letak kamarku. Kebayang gak, nenek-nenek ngangkat lemari sama tempat tidur yang berat-berat cuma dibantu seekor anak monyet yang nekat disekolahin ke SD!!! Padahal, kalo nenek-nenek laen, ogah banget ngelakuin kerjaan begituan. Kalaupun mau, pasti minta dibantu cowok dewasa.

Waktu remaja, mbah sering bangga-banggain diri sebagai orang yang berprestasi. Doski sering ngewakilin sekolahnya ikut pertandingan olahraga. Entah itu atletik, basket, atau voli. Sayang, adat lama membuat ibunya mbah alias mbah buyut, maksa mbahku untuk cepet kawin. Jadilah mbah kawin sama gurunya. Trus, cerai, kawin lagi, cerai lagi, kawin lagi, entah berapa kali. Terakhir, sama kakek di Bali. Almarhum kakek itu kakek paling oke deh. Baeeeeeeekkkk…..banget….sekitar februari tahun lalu kakek meninggal. Trus, mbah pulang ke kampung sini. Berhubung rumah bapak yang ada di kampung gak ada yang nempatin (cuma dihuni pas kami pulang liburan aja), yah dikasih aja. Lagian, kasian mbah, keinget terus sama kakek… ~_~

Sampe sekarang, jiwa muda mbah gak luntur-luntur. Hanya karena sering banyak mikir yang berat-berat, makanya jadi gampang sakit. Paling parah maag. Stress dikit, langsung kambuh sampe males makan. Lah, kapan sembuhnya kalo gak mau makan terus? Kalo dulu cukup minum satu pil promaag, sekarang kudu minum dua baru ma’brur tuh penyakit…trus, belakangan benjolan di payudaranya mulai mengganggu. Sebenarnya udah tau, kalo itu kanker. Cuma, mbah sering ngentengin. “yang namanya kalo udah waktunya, ya mau gimana lagi?”…tapi, karena (mungkin) pengen liat cucu-cucu yang ‘najis-najis’ ini pada lulus kuliah, kerja, dan dapet kesempatan buat nyenengin beliau, si mbah mulai mikir untuk “berperang” melawan kanker payudaranya.

Paling lucu (tapi nyakitin) sih, waktu aku bilang: “Mbah harus sembuh loh! Mbah harus liat aku kawin sama orang Turki”. Ini angan-angan dari dulu. Kata papi, orang turki tuh cakep-cakep, dan setelah aku liat salah satu contoh orang turki di VCD yang kebetulan ladi diputer di atas kapal penyeberangan waktu mau pulang ke Jawa, entah kapan, ternyata orang turki emang cakep-cakep!!! Gila, bikin ngiler!!! Sejak saat itu, aku bertekad punya suami orang turki… ^_^. Waktu itu aku berharap mbah ketawa (meski agak pahit, ngelus-elus rambutku dengan sayang buat nenangin aku, dan bilang: ”iya…iya…”. Tapi, kenyataannya mbah malah ketawa sampe batuk-batuk, trus bilang: “memangnya ada yang mau sama kamu?” hueeee…..nangis deh… ~_~ enggak ding… malu dong…

Yah, itulah sekelumit kisah tentang korban-korbanku dan kakakku… dan berikut adalah tersangka utama kasus peredaran foto tak layak edar di atas. Foto-foto di bawah ini adalah foto-foto cabul. Bagi anda yang masih berada di bawah umu 17 thn, telah membaca peringatan pertama, tapi masih bandel, segera tutup blog ini, dan jangan pernah baca lagi!!!


Tersangka utama 1. Nama: Aprilia Dewi Anggriadani. Umur: 21 jalan. Tanggal 2 April nanti, dia ultah. Sementara, mami ultah tanggal 1 April, papi ultah tanggal 24 april. Kalo aku, jauuuuuhhh….agustus nanti…kenapa bisa beda, sementara mereka begitu kompak? Karena beda itu penting…

Kakakku itu, kakak terbaik di dunia! Paling okelah!! (promosi) yang jelas, gak ada kakak laen yang bisa nyaingin dia. Doski tau banget tentang aku. Paling ngertiin aku, karena umur kita cuma selisih satu tahun. Kadang kita malah keliatan kayak teman sebaya. Itu sih kata temen-temenku atau temen-temennya dia. Kayak sohib gitu. Gak keliatan kakak-adek. Agak mengherankan bagi kami. Trus, mereka bilang kami keliatan seperti sohib karena aku gak bersikap hormat ala seorang adek, dan kakakku gak bersikap superior karena dia tuaan. Ah, ha! Kamu belum tau, kayak apa kakakku di rumah, Kawan…

Di rumah, dia orang yang paling manja. Kata orang, anak bungsu pasti dimanja, dan bakal jadi anak yang manja. Di keluargaku, itu gak berlaku. Justru aku yang paling banyak diberi tempaan dan deraan, tapi kuakui, itu membuat aku jadi lebih mandiri. Tentang hal ini, aku ceritain bentar lagi.

Kemanjaan kakakku berupa: makan kadang minta disuapin (jarang sih, tapi tetep berlaku), atau kalo gak gitu, kalo mau makan selalu minta diambilin sama mami. Kalo yang ini, pasti. Meski begitu, kalo di kos dia gak pernah gitu. Makan, ya urus sendiri. Karena aku gak pernah mau ngeladeni dia makan. Dan dia juga gak napsu nyuruh aku ngurusin dia makan. Eneg duluan. Hehehe…kemanjaannya yang lain, ya kalau mau ke mana-mana, minta dianterin; perlu sesuatu, minta diambilin; pokoknya selalu nyuruh-nyuruh dan yang paling sering disuruh-suruh sama dia, ya aku... ~_~

Oh, ya. Kakakku kuliah di univ. yang sama dengan aku, Undiksha, jurusan BK (Bimbingan Konseling), semester 6. satu angkatan sama eks komandan KSR-PMI tahun lalu, cuma beda kelas…


Tersangka 2. Nama: Uliana Dewi Irwandani. Pekerjaan: pengacara (pengangguran banyak acara). Status: buron. Umur: 19 jalan. Tahun ini 20thn. Nama alias: bodong. Tapi, sejak enam tahun lalu mulai tidak berlaku karena bodongnya tenggelam. Entah kenapa. Mungkin bosen liat dunia…hehehe….hidupnya sering mengalami kemajuan, terlihat dari bibirnya yang mengalami kemajuan…kulit wajahnya penuh jerawat pertanda punya hubungan baik dengan gunung-gunung berapi di seluruh Indonesia (????)

Tadi aku bilang, di keluargaku, anak bungsu gak dimanja. Yup, itu bener banget. Aku sendiri yang ngalamin. Sebagai anak bungsu, banyak yang nyangka, aku di rumah di manja-manja. Padahal, itu salah besar!!!

Gak ada tuh istilah manja-manja di rumah. Di rumah, yang ada malah kakakku yang dimanja ortu dan anggota keluarga lain. Kadang iri sih. Tapi, cuek ajah. Pada akhirnya, aku ngerasa didikan mereka ngaruh banget sama kehidupanku sekarang dan itu mempermudah jalanku. Misalnya, dari kecil aku sering disuruh-suruh. Disuruh beli ini, beli itu, disuruh ngambil ini-itu, pokoknya tiap papi, mami, kakak, ato mbah butuh bantuan tenaga tambahan, pasti aku yang disuruh bantu. Repotnya, kalo semua mintanya di waktu yang bersamaan… ~_~ jadi bingung mana yang dikerjain duluan.

Karena bingung, otakku yang error ini langsung hang. Jadi, apa-apa yang mesti aku kerjain jadi pada gak beres. Kalo udah gini, siapa yang mau disalahin? Pada akhirnya, toh tetep aku yang dimarah…huhuhuhu….susahnya jadi bungsu… ~_~ Tapi, gara-gara sering disuruh-suruh itu, aku punya pengalaman banyak dalam berhadapan dengan orang.

Contoh lain, kalo di keluarga lain, ketika makan gak boleh ngomong yang jorok-jorok atau kotor. Bahkan, ada keluarga yang aturan makannya gak boleh sambil ngomong. Tapi, di keluargaku, kita makan sambil ngobrol. cuman, ya musti ati-ati biar gak keselek ato nyembur-nyembur. Nah, kebiasaan papi, kalo aku lagi makan, sering sengaja ngomong yang jorok-jorok (banget), macem ngomong (kalau anda orang yang gampang jijik, jangan dilanjutin baca!!!) kalo dia baru habis pup, keluarnya gede-gede dan keset, jadi harus ngeden sekuat tenaga. Ato kalo gak, ngomongin muntahan. Kebayang gak?

Kalo di atap lain (keluarga lain), hal semacam itu gak masuk dalam daftar obrolan. Meski gak lagi makan. Tapi, kalo di keluargaku, terutama kalo aku lagi makan, pasti sengaja mengangkat topik itu. Tapi, gara-gara sering digituin, waktu ikut diklatsar (pendidikan dan pelatihan dasar) KSR-PMI Undiksha tahun lalu, aku gak terlalu kesusahan. Ceritanya, pas diklat itu, calon anggota (CA) harus makan, trus piringnya dituker sama temen yang laen. Kalo gak habis, ada satu CA yang disuruh nyuapin sisa makanan yang udah di’emek-emek’ jadi gak jelas bentuk dan rasanya ke semua CA. mana panitianya berlagak mau muntah, berseru-seru “uek-uek!!” gitu. Ada loh, CA yang KO, terlalu menghayati “uek”-nya panitia, jadinya muntah beneran. Karena aku udah biasa ditatar di rumah (terutama sama papi), yah gak terlalu ngaruh…. ^_^

Berikut hasil kebiadaban kami yang lain:

Nah, yang dibelakang ntuh, Mas Indra, si calon pengantin pria yang belum apa-apa udah mikir yang mesum-mesum….dasar Jiraiya, si Sensei Mesum…!!!!



Di belakang kami itu, ada lintasan kereta api. Dulu, waktu aku masih kecil, sering ada kereta penumpang lewat situ. Kadang aku naroh uang receh di relnya biar dilindes keretanya, trus jadi gepeng deh…tapi, sekarang keretanya gak pernah lewat lagi. Katanya sih, perusahaan keretanya udah bangkrut…. ~_~


Pamer tampang jelek neh….


Asli, kita berdua emang kompak banget… tapi, kalo lagi berantem, ribut banget!!! Kadang, bapakku sampe ikut turun tangan untuk melerai. Gak pernah adu fisik sih. Sebenernya, aku paling males kalo harus berantem. Tapi, karena kakakku terus nyerang, ya mau gak mau aku harus membela diri.… tapi, bener deh. Sumpah, aku males banget berantem. Jadi, kalo udah terlanjur berantem, biasanya yang kedengeran suka ngeyel, nyahutnya ogah-ogahan, kedengerannya cuek, gak peduli banget, nyahut asal nyahut aja, itu pasti aku. Nah, yang kedengeran gahar, nyerang terus, nyrocos gak habis-habis, tapi pada akhirnya bakalan capek sendiri, itu kakakku…. Berantem sama aku cuma bikin capek sendiri. Soalnya, kalo udah puyeng, udah males banget, paling aku cuma nyahut: ‘nah…nah…nah…’ yang artinya: ya…ya…ya…

Tiap dia mulai ngomel, aku bilang ‘ya…ya…ya…’ dia nyolot lagi, ya…ya…ya… semakin panas, ya…ya…ya… makanya, bakalan sakit hati sendiri karena gak terlalu dipeduliin gitu… :p

Selasa, 24 Maret 2009

jangan tanyakan jenis kelaminku...

sebel deh. rencananya sore ini berangkat ke Jawa. pulang kampung, gituh...eh, taunya ada kuliah jam 6 sore... ~_~ huhuhu...

sebel...sebel...sebeeee....lllll....!!! untung kuliahnya nyenengin. banyak ketawa.dapet pujian juga dari Pak Artika.hehehe...berkat Mas Nanoq nih...

pulang kuliah, jam 8, langsung beres-beres, trus capcus deh dari kos...eh, begitu sampe rumah, katanya gak jadi berangkat sekarang. katanya besok pagi ajah.lagian, Mas Indra, kakak sepupuq harus nganter tahu besok. walah...ngambek deh...langsung cabut ke pasar senggol di seririt. maunya sih beli bakso, berhubung laper banget...apes, bakso langgananq habis. akhirnya, beli es buah aja deh...

dari senggol, maunya ke warnet deket situ. eh, pas jalan ada gerombolan cowok-cowok ngumpul di warung nasi jinggo. trus, denger salah satu dari mereka bisik-bisik. terjadilah dialog seperti di bawah ini...

cowok 1: sssttt...ssstttt...ada cewek, tuh!
cowok laen: mana? mana?
cowok yang laen: itu, yang lagi lewat...
cowok yang laen lagi: ah, bukan...itu mah cowok! buta, lu!!
cowok yang laennya lagi: cewek, bego!!!


halah...kalian semua tuh yang buta, bego... hermaprodit gini, kok...heheheh....yah, emang banyak sih orang-orang yang ketipu kalo liat aku cuma sekilas. salah sendiri, gak pake kacamata pembesar..biar keliatan aku cowok ato cewek...(iye, kagak nyambung!)

btw, kemaren insomniaq kambuh lagi. parah banget!!jam 2 pagi masih onlen!!!untung ada temen di facebook nemenin...tapi, hasil dari insomnia itu, aku dapet ngerjain tugas peliputan (hasil dari kunjungan ke rumahnya Mas Nanoq) sama cerpen satu. pengen di post di sini, cuman belum tau caranya... :p namanya juga ayam...katrok!!!
ntar deh, kalo udah ngerti caranya...

itu cerpen tentang aku sama seseorang yang istimewa banget. yah, kisah cinta gituh...cuman, pada kenyataannya endingnya gak bahagia. dia sih bahagia. aku nggak... ~_~

yah, tunggu ajah cerpenq...
duh, postingan kali ini dikit aja deh...kebelet pipis nih... pengen cepet pulang....wkeekekekeke...